Selasa, 23 Agustus 2016

KISAH-KISAH ORANG BERMATA TAJAM

KASUS PENYAKIT AIN DAN PENYEMBUHANNYA







Oleh Syaikh Wahid Abdus Salam Bali

Ibrahim bin ‘Abdullah Al Hazami dalam bukunya “Al ‘Ainu Haq Bahaya Mata yang Menghancurkan” memberikan kisah-kisah tentang dampak ‘ain yang dapat mempengaruhi bahkan membahayakan makhluk hidup bahkan alam sekitarnya.

Menimpakan ‘Ainnya hanya dengan Mendengarkan Suara Korban

Al Ashmu’I berkata:”Aku telah melihat seseorang yang bermata tajam mendengarkan suara sapi sedang diperah.Dia terkegum-kagum dengan derasnya pancaran air susu itu.lalu ia bertanya,”Sapi jenis apa ini?Orang-orang menjawab,”Jenis anu”,seraya menyebutkan jenis yang lain dan menyembunyikan jenis Sali sapi itu.namun yang terjadi justru kedua sapi tersebut malah mati,baik yang disebutkan jenisnya maupun yang disamarkan (disembunyikan).”

Al Ashmu’I berkata:”Aku mendengar ia berkata:Jika aku melihat sesuatau yang mengagumkanku,maka aku merasakan panas keluar dari mataku.”(lihat Al Jami’li Ahkami Qur’an,oleh Al Qurthubi 9/227)

Memecah Batu dengan ‘Ain

Abu Said bin ‘Abdul malik bin Qarib berkata:”Dahulu,di daerah kami ada dua orang laki-laki yang menimpakan ‘ain kepada orang-orang.Salah satu dari kedua orang itu melewati lempengan batu seraya berkata:”Demi Allah,aku tidak pernah melihat yang seperti ini.”Maka terbelahlah batu itu menjadi dua,lali keluarganya mengambil batu tersebut dan mengecornya dengan besi.Dia melewatinya lagi untuk kedua kali lalu dia berkata dengan menyumpahi batu tersebut maka pecahlah batu itu menjadi empat bagian.

Menghilangkan Pengaruh Pandangan Mata yang Menyebabkan Unta terjatuh dengan Kekuatan Ruqyah

Ibnul Qayyim menuturkan kisah aneh tentang berbaliknya pengaruh ‘ain kepada pelakunya.beliau berkata:”(cerita ini) dari Abu ‘Abdullah As Saji, bahwa dia sedang dalam perjalanan haji atau perang. Saat itu dia mengendarai seekor unta yang besar. Diantara rombongan mereka ada orang yang bermata tajam. Setiap kali orang itu memandang saesuatu,yang dipandang pasti binasa. Hal tersebut dikabarkan kepada Abu ‘Abdullah supaya Abu ‘Abdullah berhati-hati. Mereka mengatakan,”Lindungilah unta anda dari seorang yang bermata tajam.”lalu Abu ‘Abdullah menjawab:”Dia tidak bisa mencederai ontaku.”Ketika perkataan Abu ‘Abdullah disampaikan kepada orang bermata tajam tadi, maka orang tersebut mencari kesempatan pada saat Abu ‘Abdullah tertidur. Diam-diam orang itu mendatangi unta Abiu ‘Abdullah dan memandangnya, maka gemetarlah unta itu dan terjatuh. Abu ‘Abdullah datang ketempat itu setelah dikhabari bahwa ontanya telah disatroni orang yang bermata tajam seperti yang terlihat. Lalu Abu ‘Abdullah berkata:”Tunjukkan kepadaku orang itu!”Ketika orang bermata tajam tersebut diperlihatkan kepada Abu “Abdullah.Maka Abu ‘Abdullah pun berdiri di depannya seraya membaca doa ruqyah:

“Dengan menyebut nama Allah, ada seseorang yang telah menahan,ada batu yang amat keras,dan ada api terlempar membara.Aku kembalikan ‘ain itu kepada pemiliknya dan kepada orang yang paling dia cintai (Maka lihatlah berulang-ulang,adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat,dan penglihatanmu itupun keadaan payah).(Al Mulk:3-4)
Maka keluarlah biji mata laki-laki tersebut dan hilanglah pengaruh ‘ain orang yang bermata tajam itu,dan unta kembali berdiri dan sehat sedia kala.(lihat Zaadul Ma’ad 4/174)

Sembuh Karena Orang yang Menimpakan ‘Ain Mati.

Aku (Ibrahim bin ‘Abdullah Al Hazami) mendengar almarhum ayahku bercerita bahwa ada seseorang di Balidah,hidup dalam keadaan buta selama lima belas tahun.Anak perempuannya selalu mengantarkannya kedalam masjid khususnya pada malam hari.Pada suatu malam orang tersebut bangun untuk melakukan shalat subuh,tiba-tiba dia bisa melihat bintang,dinding dan tempat air yang biasa dia gunakan untuk berwuduk.Ketika dia masuk ke dalam masjid,dia dapati orang-orang mengumumkan shalat jenazah untuk fulan,dan ternyata orang yang meninggal itu semoga Allah meridoinya adalah orang yang berpenyakit ‘ain.

Anak Berhenti berbicara

Ustadz Wahid Baaliy berkata:dahulu ada seorang anak yang fasih, ucapannya menyentuh,pandai dan terpandang di antara kawan-kawannya. Anak itu masih sekolah dijenjang SLTP.Dia sering diperbincangkan dalam berbagai acara dan resepsi.
Pada suatu hari ada salah seorang anak desa ada yang meninggal,lalu anak ini pergi untuk berta’ziyah bersama keluarganya.Dia memuji Allah dan menyanjung-Nya,kemudian menyampaikan nasehat kepada orang-orang.Pada sore harinya ternyata anak ini menjadi bisu. Ayahnya sangat terkejut,lalu membawanya kedokter.Para dokter mulai mengobatinya dan melakukan apa saja yang dapat menolongnya akan tetapi tidak ada hasil.

Lalu ayah itu dating kepada saya.Ketika aku melihat anak itu,aku hampir menangis karena aku tahu persis aktifitas keislaman anak ini untung aku dapat menahan diri,lalu aku bertanya pada anak itu tentang apa yang terjadi.Anak itu diam saja,lalu ayahnya menceritakan kisahnya padaku.
Dari cerita itu aku mengetahui bahwa anak tersebut terkena ‘ain,lalu aku meruqyahnya dengan membacakan Surat An-Naas dan Al alaq.Kemudian aku memberikan air yang sudah aku ruqyah dan berpesan kepada Ayahnya supaya anak ini minum dan mandi dengan air tersebut selama tujuh hari dan setelah itu supaya datang lagi padaku.
Tujuh hari kemudian anak itu datang lagi kepadaku. Dia sudah ceria dan fasih kembali seperti semula,lalu aku mengajarkan kepadanya doa perisai untuk dibaca pada waktu pagi dan sore supaya dia terlindun dari ‘ain.
(Dituturkan oleh Wahid Baaliy dalam kitabnya:Ash-Sharimul Battar fit Tashaddi lis-sihiril Asyrar,halaman:251)

Memecahkan Piring dengan ‘Ain

Al Ahmari,seorang siswa SMU,sehari-harinya ia menyaksikan sekelompok kawan-kawannya yang sedang berkumpul sambil tertawa-tawa. Kemudian dia bergabung dengan mereka untuk mengamati, apakah ada salah seorang dari kawannya yang menghasud dengan ‘ainnya. Dia (Al Ahmari) melihat ada seorang anak kecil penghasud sedang melakukan hal yang sangat remeh, tetapi hampir tidak dapat dipercaya, yaitu jika dia melihat mangkuk makanan di tangan seseorang, maka mangkuk itu langsung jatuh dan pecah. Anak kecil tersebut pernah mengakui perbuatannya itu,dia berkata,”Aku akan melakukan ini.”dan ternyata dia memang melakukannya (menjahili orang lain dengan ‘ainnya). Sejak itu kawan-kawannya tertawa-tawa melihat perbuatannya dan bermain dengan barang-barang milik orang. Padahal seorang muslim seharusnya tidak seperti itu,akan tetapi setiap melihat hal-hal yang membuat perasaan tertarik harusnya berkata: MaasyaAllah

Menghentikan Kereta

Dikisahkan bahwa pada zaman penjajahan inggris ada seorang kakek yang berpenyakit ‘ain ikut serta dalam rombongan saudagar untuk memberli onta dan sapi dari negeri-negeri tetangganya. Ketika mereka melewati negeri mesir, mereka membawa banyak onta. Jumlah onta itu sangat banyak hingga memenuhi gunung yang dilintasi kereta, pemilik unta itu kesulitan menjauhkan unta dari rel kereta karena kereta bisa lewat kapan saja. Yang paling rawan adalah kalau sampai unta itu tertabrak kereta, maka inggris akan merampas unta dan memberi denda yang berlipat ganda. Orang tua itu merasa tenang ketika kereta tak kunjung datang, dan apabila datang juga dia akan melakukan sesuatu yang dapat menghentikannya. Seketika itu datanglah kereta dari kejauhan dengan suara klakson yang keras. ketika kereta semakin dekat,orang tua ini mengarahkan pandangannya yang tajam kearah kereta, seketika itu juga kereta semakin melemah dan suaranya juga semakin kecil dan akhirnya berhenti. Kereta itu baru bergerak lagi setelah unta-unta itu menyeberang rel semuanya.Ketika pemilik unta itu sudah merasa tenang orang tua ini mengarahkan pandangannya kearah kereta dan meniup ke udara,fuh-fuh lalu kereta jalan kembali. (Al Masaiyah,oleh Ali-Majid)

Kisah Paulus Pie

Dikisahkan oleh pemuka-pemuka gereja di Italia bahwa Paulus Pie IX bunuh diri disebabkan ia memiliki keyakinan bahwa dirinya bermata tajam, dan bahwa dia menjadi penyebab matinya ratusan orang, yakni karena pandangan yang lama pada mereka.

Kisah Raja Alphonse

Begitu pula dikisahkan bahwa raja Spanyol Alphonse XIII adalah pemilik mata tajam yang jahat. Pada tahun 1923M dia mengadakan kunjungan resmi ke Italia. Pihak Istana Italia mengadakan penyambutan secara resmi. Akan tetapi sambutan ini memakan banyak korban dari pasukan angkatan laut Italia, yakni terjadinya ledakan besar di salah satu kapal selam yang dilibatkan dalam penyambutan resmi ini. juga meledaknya bom yang digunakan untuk menyambut kedatangan raja Spanyol ini sehingga membunuh orang-orang yang ada disekitarnya. kemudian salah seorang dari pasukan laut yang disalami raja kemudian jatuh sakit setelah salaman ini, dan tidak lama kemudian dia pun mati. Juga dikisahkan bahwa ketika raja yang ganas ini menuju laut Gleno, tiba-tiba bendungan yang ada di sana runtuh yang mengakibatkan matinya lima puluh orang karena tenggelam dan lima ratus orang kehilangan tempat tinggal.
Menurut sebuah berita bahwa dictator Italia Mussolini sangat takut kepada ‘ain sehingga dia menolak bertemu dengan raja Spanyol Alphonse XIII tersebut. Jalinan politik kedua Negara dilakukan melalui utusan (duta) yang tidak lazim dilakukan. Semua itu untuk menghindari pertemuan dengannya.


Kisah 'Ain Dari Dalam Negeri


KECELAKAAN kembali menghebohkan dunia penerbangan. Kali ini pesawat tempur TNI AU, F16 terbakar di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Kamis (16/4) pagi sekitar pukul 08.30.

Nomor pesawat yang jatuh itu TS-1643. Menurut  Kepala Urusan Penerangan Pasukan dan Umum Halim Perdanakusuma Mayor Dodo Agusprio F-16 itu gagal lepas landas lalu terbakar di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.  Para petugas pun langsung berupaya memadamkan api yang membakar pesawat. Beruntung pilot berhasil menyelamatkan diri dan kini sedang dirawat.

Menurutnya, pesawat tersebut akan melaksanakan misi Fly Pass dari Halim Perdanakusuma menuju Markas Besar TNI dan kembali ke Halim Perdanakusuma. Rencananya pesawat itu akan terbang di atas Presiden Joko Widodo yang tengah berada di Mabes TNI Cilangkap untuk mengikuti upacara pengangkatan dirinya sebagai anggota kehormatan TNI.

“Pesawat saat itu tak mau naik, lalu terbakar dan sempat terjadi ledakan,” kata Dodo seperti dilansir CNN Indonesia.

Adakah kaitan antara robohnya crane di Makkah dengan kedatangan Jokowi? Ustadz Perdana Akhmad, ustadz yang terkenal sebagai peruqyah dan sering tampil di layar kaca ini punya padangan berbeda. Mungkinkah Jokowi menderita penyakit ‘Ain (mata jahat -red)? Berikut ini pernyataan beliau sebagaimana kami kutip dari akun Facebook beliau:

Ustadz: Bisa Saja Jokowi Derita Penyakit Mata Jahat, Membuat Orang Jatuh dari Tempat yang Tinggi?

POSMETRO INFO - Adakah kaitan antara robohnya crane di Makkah dengan kedatangan Jokowi? Ustadz Perdana Akhmad, ustadz yang terkenal sebagai peruqyah dan sering tampil di layar kaca ini punya padangan berbeda. Mungkinkah Jokowi menderita penyakit ‘Ain (mata jahat -red)? Berikut ini pernyataan beliau sebagaimana kami kutip dari akun Facebook beliau:

Ada beberapa peristiwa yang aneh ketika JOKOWI berada di acara dan kegiatan penting, peristiwanya adalah :

1. Pesawat tempur TNI AU, F16 terbakar di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Kamis (16/4) pagi sekitar pukul 08.30 pada saat acara pembaretan JOKOWI. (jpnn.com)

2. Anggota Denjaka, Sertu Marinir Ilyas Hasan Kamis (16/4) pagi. Maksud hati ingin memamerkan kemampuan di depan Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI Jenderal Moeldoko dalam aksi simulasi penyelamatan orang penting dari sekapan teroris, Ilyas malah jatuh dari ketinggian 15 meter, atau sekitar 2/4 dari gedung Plaza Mabes TNI. (jpnn.com)

3. Musibah menimpa jamaah haji di Masjidil Haram, Makkah. Akibat badai, sebuah crane jatuh dan menimpa para jamaah haji. Dikabarkan sedikitnya 65 orang tewas dan 80 luka-luka. Saat peristiwa nahas itu terjadi, Presiden Joko Widodo baru mendarat di Jeddah, Arab Saudi untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke tiga negara di Timur Tengah. (merdeka.com)

Saya melihat peristiwa musibah dalam kacamata Ilmu Ruqyah, merupakan bentuk kekuatan negatif ‘ain (mata) yang dapat saja diderita Jokowi. Jokowi dengan kekagumannya yang berlebihan dapat saja telah membuat jatuh orang orang atau benda-benda yang berada ditempat yang tinggi.

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Mata adalah benar, dapat membuat orang jatuh dari tempat yang tinggi.” (Diriwayatkan oleh oleh Ahmad, Thabrani, dan al-Hakim, dan di-hasan-kan oleh al-Albani di dalam as-Silsilah Shahihah (1250))

Penyakit ‘ain dapat saja diderita Jokowi, jika dia melihat sesuatu kejadian orang atau benda lalu pandangan Jokowi bercampur dengan kedengkian dan tabi’at Jokowi buruk maka akan menimbulkan kesialan bagi orang, benda bahkan alam sekitarnya hingga pesawat jatuh, aksi simulasi dari ketinggia gedung anggota Denjaka jatuh, terakhir Crane jatuh selalu bertepatan Jokowi berada didekat kejadian..

Al-Hafizh Ibnu Hajar Berkata:” Hakikat mata ialah pandangan yang baik bercampur dengan kedengkian dari seorang yang bertabi’at buruk sehingga terjadilah bahaya pada orang yang dilihat.” (Fathul Bari (10/200))

Alhamdulillah Pemerintah Kerajaan Arab Saudi bertindak cepat dengan melarang Jokowi untuk umroh jika memang ternyata Jokowi menderita penyakit ‘ain maka akan menimbulkan musibah lain yang lebih besar lagi. (tribunnews.com)

http://www.posmetro.info/2015/09/ust...yakit.html?m=1

Selain kisah itu ada lagi kisah dari jawa yang mengatakan bahwa sebuah rumah mewah yang baru dibangun runtuh setelah dipandang oleh seseorang yang diduga memiliki penyakit ain.

Jika kita melihat kisah-kisah diatas dan dikaitkan dengan hadits dibawah ini tentu sangat erat kaitannya, dan kita harus percaya dengan keberadaan ain, sehingga tidak ada diantara kita yang menganggap bahwa penyakit ain itu khurafat atau takhayul. Berikut hadits-hadits yang berkaitan dengan bahaya 'ain   :

*. Dari Asma’ binti Umais Radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja’far terkena ‘ain. Bolehkan saya meruqyah mereka?” Lalu Rasulullah berkata, ”Ya, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului qadha (keputusan Allah) tentu ‘ain telah mendahuluinya.”( HR. Ahmad (6/438) dan at-Tirmidzi (2059) dan dia berkata, “Ini adalah hadits hasan shahih”)

*. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ain adalah benar dapat menjatuhkan orang yang berada di atas.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani dan al-Hakim dan ia adalah hadits hasan). Maksudnya pengaruh ‘ain dapat menjatuhkan orang dari atas gunung (tempat) yang tinggi.

*. Dari Jabir RA, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ain dapat memasukkan seseorang ke dalam kuburan, dan dapat memasukkan unta ke dalam panici.” (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan al Albani mengatakan hadits hasan dalam Shahih al-Jami’ no. 4023). Maksudnya bahwa ‘ain dapat mengenai seseorang lalu membunuhnya sehingga ia mati dan dimakamkan di dalam kubur, dan dapat mengenai unta sampai hampir mati, lalu disembelih dan dimasak di dalam panci.

*. Dari Jabir bin Abdullah Rhadhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kebanyakan orang yang mati dari umatku setelah keputusan Allah dan takdir-Nya adalah karena ‘ain.” (HR. al-Bukhari dan lainnya)


Wallaahu 'Alamu Bishawab

Bagi Anda yang membutuhkan terapi bekam di bandung silahkan klik disini

Senin, 22 Agustus 2016

KOMUNITAS RUQYAH SYAR'IYAH DI INDONESIA

NAMA-NAMA KOMUNITAS RUQYAH SYAR'IYAH DI INDONESIA



RUQYAH SYAR'IYAH DI INDONESIA semakin hari semakin berkembang , hal itu tidak terlepas dari peran berbagai komunitas yang ada di indonesia dalam melakukan pelatihan-pelatihan ataupun acara ruqyah masal di berbagai wilayah. Berikut adalah nama-nama komunitas ruqyah syar'iyah yang aktif melakukan kegiatan di berbagai daerah  :


1.  ASOSIASI RUQYAH SYAR'IYAH INDONESIA ( ARSYI ), FOUNDER : USTADZ FADLAN LC.




2. Bekam Ruqyah Center ( BRC ), Founder  : Ustadz Asep Hasan Badri






3.  RUQYAH LEARNING CENTER ( RLC ), FOUNDER : USTADZ NADIF KHALYANI





4.  QURANIC HEALING INDONESIA ( QHI ), FOUNDER : USTADZ PERDANA AKHMAD S.Psi



5.  REHAB HATI,   FOUNDER : USTADZ NURUDIN AL-INDUNISI ( NAI )




6.  KOMUNITAS CINTA RUQYAH ( KCR ), FOUNDER : USTADZ ADAM AMRULLAH




7.  RUQYAH SYAR'IYAH INDONESIA ( RSI ), FOUNDER : USTADZ SAEPUDIN ALHAMIQ
8.  RUMAH RUQYAH INDONESIA, FOUNDER : USTADZ AHMAD JUNAEDI LC,
 9.  ARSYADA ASSYIFA, FOUNDER : USTADZ MUHAMMAD FAIZAR
10. CINTA RUQYAH SYAR'IYYAH, FOUNDER : USTADZ SYUHADA HANAFI SPdi.


Selain beberapa komunitas tersebut tentu masih banyak para peruqyah yang tidak memasang bendera, baik yang berjalan sendiri-sendiri ataupun yang berbentuk kelompok. Ada yang belajar langsung dari kitab Quran dan Hadits ada juga yang belajar dari Ustadz-ustadz yang berada di wilayah mereka. Namun walupun para peruqyah itu berasal dari berbagai komunitas, kita sangat berharap agar mereka tetap bersatu dan saling menyapa satu sama lain, serta tidak menganggap bahwa dirinya lebih baik daripada peruqyah lain karena hakikat kesembuhan datangnya dari Allah SWT. Apalagi jika terdengar suara sumbang yang mengatakan bahwa ada peruqyah yang saling hujat atau saling ejek bahkan saling fitnah, tentu hal itu sangat jauh dari harapan kita. Ingatlah bahwa sifat merasa diri lebih baik dari orang lain adalah sifat iblis, sebagaimana diceritakan dalam alquran Surat Al-'araf ayat 12.


قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah. (Q.S. Al-A’raf : 12).


Naudzubillahi min dzalik
Semoga kita terhindar dari tipu daya iblis dan balatentaranya, aamiinnn.......
Bagi Anda yang membutuhkan terapi bekam di Bandung silahkan klik disini


WASPADALAH DENGAN PENYAKIT AIN

 HATI-HATI DENGAN PENYAKIT AIN


Al hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata
“Dan ‘ain itu adalah pandangan suka disertai hasad yang berasal dari kejelekan tabiat, yang dapat menyebabkan orang yang dipandang itu tertimpa suatu bahaya.” [Fathul Bari, 10/200].

 Misalnya  anak kecil yang dipandang dengan penuh dengki karena kelucuannya dan begitu menggemaskan maka ia bisa jatuh sakit atau terus-terusan menangis. Selain dari penglihatan, hasad ternyata bisa terjadi melalui gambar atau hanya sekedar khayalan.
Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad (4: 153) berkata,
 “Ain bukan hanya lewat jalan melihat. Bahkan orang buta sekali pun bisa membayangkan sesuatu lalu ia bisa memberikan pengaruh ‘ain meskipun ia tidak melihat. Banyak kasus yang terjadi yang menunjukkan bahwa ‘ain bisa menimpa seseorang hanya lewat khayalan tanpa melihat.”
Syaikh Sholih Al Munajjid berkata, “Dari sini terlihat bahwa ‘ain bisa ditimbulkan dengan melihat pada gambar seseorang secara langsung atau melihatnya di TV. Bahkan bisa hanya dengan mendengar, lalu dikhayalkan dan terkenalah ‘ain. Kita memohon pada Allah keselamatan.” (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272)
Sehingga disarankan tidak memajang foto anak/saudara kita di media sosial agar terhindar dari penyakit ini.


الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

“’Ain itu benar adanya, andaikan ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir maka ‘ain akan mendahuluinya, dan apabila kalian diminta mandi (untuk mengobati orang yang kalian timpakan penyakit ‘ain) maka mandilah.” [HR. Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma]


Adapun hadits Nabi, maka sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir Radliyallaahu ‘anhu ia berkata : telah bersabda Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

“Al-‘Ain adalah haq (benar), dapat memasukkan seseorang ke dalam kuburan dan dapat memasukkan onta ke dalam kuali (mati)” [HR. Ibnu ‘Adi 6/407 biografi no.1890 dari Mu’awiyyah bin Hisyam Al-Qashshaar, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 7/90, Al Khathiib 9/244, Al-Qadlaa’I 2/140 no. 1059; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahiihul-Jaami’ no.4144].

Tentang Foto Yang Di Pasang Di Sosmed


Hadits Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif di atas menunjukkan bahwa orang yang terkena penyakit ‘ain karena dipandang secara langsung. Adapun apakah mungkin terkena penyakit ‘ain jika dipandang melalui fotonya atau gambarnya maka kami belum mengetahui penjelasan ulama akan hal tersebut, silakan ditanyakan kepada para Ustadz lainnya. Akan tetapi membuat gambar-gambar bernyawa apakah yang dibuat oleh tangan maupun mesin adalah terlarang berdasarkan keumuman dalil diharamkannya gambar bernyawa tanpa memberikan pengecualiaan untuk gambar yang dibuat oleh mesin. Berdasarkan banyak hadits, diantaranya,

عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفَتْ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَتُوبُ إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مَاذَا أَذْنَبْتُ قَالَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ فَقَالَتِ اشْتَرَيْتُهَا لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ – وَقَالَ – إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لاَ تَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ

“Dari Aisyah radhiyallahu’anha, seorang istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahwasannya beliau mengabarkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahwa beliau telah membeli bantal yang padanya terdapat gambar-gambar bernyawa, ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melihatnya, maka beliau hanya berdiri di pintu, tidak mau memasuki rumah. Aisyah pun mengetahui ketidaksukaan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang tergambar pada wajah beliau, Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, aku kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, apakah dosaku?” Beliau bersabda, “Untuk apa bantal ini?” Aisyah menjawab, “Aku belikan untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar padanya.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya para pemilik gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka: Hidupkan yang telah kalian ciptakan.”

Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya rumah yang terdapat padanya gambar-gambar bernyawa tidak akan dimasuki oleh malaikat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Terlebih lagi jika gambar seorang wanita disebarkan di internet, maka sisi keharamannya bertambah, diantaranya:

Pertama: Menimbulkan fitnah (godaan) bagi laki-laki dan bisa berdampak pada maraknya perzinahan.

Kedua: Dosa menampakkan aurat dan mungkin disalahgunakan oleh pihak-pihak yang menginginkan kejelekan.

Ketiga: Menjadikan suami dan mahramnya sebagai orang-orang yang kehilangan sifat cemburu (dayuts), satu sifat yang pernah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagai penghalang masuk surga.

Timbul argumen, "Kan cuma foto, tidak memandang langsung". Maka, kita jawab, tidak mesti pandangan secara langsung, ada fatwa ulama' dalam hal ini, & simak perkataan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah,
ﺔﻳﺅﺭ ﺮﻴﻏ ﻦﻣ ﻒﺻﻮﻟﺎﺑ ﻦﻴﻌﻤﻟﺍ ﻲﻓ ﺮﺛﺆﻳ ﻦﻴﻨﺋﺎﻌﻟﺍ ﻦﻣ ﺮﻴﺜﻛﻭ ، ﻩﺮﻳ ﻢﻟ ﻥﺇﻭ ﻪﻴﻓ ﻪﺴﻔﻧ ﺮﺛﺆﺘﻓ ﺀﻲﺸﻟﺍ ﻪﻟ ﻒﺻﻮﻴﻓ ﻰﻤﻋﺃ ﻥﻮﻜﻳ ﺪﻗ ﻞﺑ ، ﺔﻳﺅﺮﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﺎﻫﺮﻴﺛﺄﺗ ﻒﻗﻮﺘﻳ ﻻ ﻦﺋﺎﻌﻟﺍ ﺲﻔﻧﻭ

"Ain bukan saja dari melihat, bahkan orang yang buta saja jika ia bisa mengkhayalkan sesuatu, maka ia bisa memberikan ain. Bahkan banyak kasus ain yang terjadi bisa dari pengkhayalan semacam ini, tanpa mesti melihat. " [Zaad Al-ma'aad (4/153) )

Maka janganlah membuat gambar bernyawa, baik dengan tangan maupun mesin, jangan pula memajangnya di internet dalam rangka taat kepada Allah ta’ala dan kehati-hatian dalam mentaati-Nya.


Al-Imam An-Nawawi mengatakan, hadits ini menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, dan tidak akan terjadi kecuali sesuai dengan apa yang telah Allah takdirkan serta didahului oleh ilmu Allah tentang kejadian tersebut. Sehingga, tidak akan terjadi bahaya ‘ain ataupun segala sesuatu yang baik maupun yang buruk kecuali dengan takdir Allah. Dari hadits ini pula terdapat penjelasan bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan memiliki kekuatan untuk menimbulkan bahaya. (Syarh Shahih Muslim, 14/174) ‘Ain dapat terjadi dari pandangan yang penuh kekaguman walaupun tidak disertai perasaan dengki (hasad). Demikian pula timbulnya ‘ain itu tidak selalu dari seseorang yang jahat, bahkan boleh jadi dari orang yang menyukainya atau pun orang yang shalih. (Fathul Bari, 10/215) Sabda Nabi Muhammad SAW, maksudnya: "Kebanyakan orang yang mati dari umatku setelah kerana ketetapan dan takdir Allah adalah sebab tertimpa `ain." (HR Al-Bukhari) Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan bahawa Asma' binti 'Umais berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja'far tertimpa `ain, apakah aku boleh meminta orang meruqyah mereka? Beliau menjawab: "Ya boleh. Andai kata ada sesuatu yang boleh mendahului takdir niscaya `ainlah yang mendahuluinya." Rasulullah memerintahkan untuk melakukan ruqyah, yaitu pengobatan dengan Al Qur’an dan dzikir-dzikir kepada Allah, terhadap orang yang terkena ‘ain. Beliau memerintahkan hal itu pula kepada istri beliau, ‘Aisyah: “Rasulullah memerintahkannya untuk melakukan ruqyah dari ‘ain.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5738 dan Muslim no. 2195)


Bagi anda yang membutuhkan terapi bekam di Bandung silahkan klik disini

PERBEDAAN 'AIN DENGAN SIHIR

'AIN



Pada setiap diri manusia pasti ada setan yang menyertainya. Jika setan mendengar ucapan kita,maka ia akan mentransfernya. Misalnya kita mengatakan,”Si Fulanah sangat cantik” maka ketika itu setan akan menyambar perkataan tersebut kemudian mentransfernya kepada korban ‘ain. Jika orang tersebut (s ikorban) tidak membentengi diri dengan berbagai macam dzikir, maka ‘ain bisa menimpa dirinya. Penyakit ‘ain terkadang bisa membunuh atau menimbulkan penyakit bagi korbannya. Lalu, apakah ‘ain itu? Apa bedanya dengan hasad?

Pengertian ‘ain

Pandangan mata, atau diistilahkan dengan ‘ain, adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang dianggap bagus disertai dengan kedengkian yang muncul dari tabiat yang jelek sehingga mengakibatkan bahaya bagi yang dipandang. (Fathul Bari, 10/210)

Pengertian Hasad

Ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan hasad. Namun inti ungkapan mereka, hasad adalah sikap benci dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang tidak disukainya. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah , 10/111)
An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik itu nikmat dalam agama ataupun dalam perkara dunia.” (Riyadhush Shalihin, Bab Tahrimil Hasad, no. 270)

‘Ain dan Hasad


    Pendengki (al hasid) lebih umum daripada orang yang menimpakan ‘ain (al ‘ain). Seorang pendengki belum tentu juga sebagai penebar ‘ain. Kadang, seseorang mendengki (hasad) tanpa menimpakan ‘ain padanya/tanpa mencelakakannya. Karena itu dalam surat Al Falaq disebutkan permohonan perlindungan dari dari pendengki.

     “Rasulullah senantiasa berlindung dari jin dan pandangan manusia, hingga turun surat Al-Falaq dan surat An-Naas. Ketika keduanya telah turun, beliau menggunakan keduanya dan meninggalkan yang lainnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2059 dan Ibnu Majah no. 3511)

Jika seorang muslim sudah memohon perlindungan dari keburukan pendengki, maka otomatis sudah termasuk memohon dari keburukan orang yang menimpakan ‘ain. Adapun ‘ain, terkadang ia juga berasal dari orang sholih.

    Ada kesamaan dalam beberapa hal antara hasad dan ‘ain. Begitu pula ada beberapa hal yang berbeda antara keduanya.
    Sumber perkara. Dengki bersumber dari terbakarnya hati karena melimpahnya nikmat atas orang yang didengki, sehingga si pendengki mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki. Sedangkan ‘ain, sumbernya adalah ketakjuban dan kekaguman.
    Pendengki bisa mendengki sesuatu yang diprediksi bakal terjadi sebelum sesuatu itu terjadi, sedangkan penebar ‘ain hanya dapat mengarahkan ‘ain terhadap sesuatu yang sudah ada
    Pendengki mengkondisikan dirinya, dan mengarahkan pandangan jiwanya terhadap orang yang didengki baik orang itu ada di hadapannya atau tidak. Sedangkan ‘ain, jiwanya mengkondisikan sedemikian rupa saat beratatapan muka saat melihatnya.

Cara Mengobati ‘ain

    Jika penebar ‘ain sudah diketahui, maka disuruh untuk mandi, berwudhu, dan berkumur-kumur, sebagaimana sabda Rasulullah -shalallahu 'alaihi wasallam-“Jika di antara kalian diminta mandi (karena) menimbulkan atau tertuduh menebarkan ‘ain , maka mandilah”. Dan sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Penebar ‘ain diperintahkan mandi, dan yang terkena ‘ain pun mandi (dengan menggunakan air bekas penebar ‘ain) (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Syaikh Al Bani mengomentari bahwa sanadnya shohih). Adapun jika penebar ‘ain menolak untuk mandi, maka disarankan untuk mengambil atsarnya (bekas sentuhan tubuhnya) sebagaimana pernyataan Syaikh Ibnu ‘Utsaim,”Sekiranya diambil peci penutup kepalanya/handuknya yang basah, niscaya akan memberikan manfaat untuk menghilangkan pengarunya.

Hubungan antara 'ain dengan sihir

Ketika Allah berfirman dalam surat Al-Falaq:

"Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki". (QS. Al-Falaq: 4-5). Allah menggabungkan antara sihir dan hasad. Ini mengisyaratkan adanya hubungan antara keduanya yaitu bahwa seorang penyihir menghembuskan pada buhul dari rambut atau kuku yang digunakan untuk mengikat setan yang akan menyakiti orang yang disihir. Sedangkan seorang yang hasad mengikat setan dengan sifat kekaguman yang tidak disebutkan nama Allah padanya untuk menyakiti orang yang dikenai 'ain. Keduanya bisa memudharatkan dan keduanya sama dalam menimbulkan pengaruh sakit akan tetapi berbeda dalam sarananya.

* Allah berfirman: "Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki". (QS. Al-Falaq: 4-5).

Kenapa wanita-wanita tukang sihir dima'rifatkan dandinakirahkan apa yang sebelumnya dan setelahnya ?.Karena setiap wanita penyihir memiliki kejahatan adapun setiap malam dan setiap pendengki tidak memiliki kejahatan.

* Orang-orang awam mengatakan, "Ketika orang yang menimpakan 'ain mengetahui bahwa keringat atau air liurnya diambil maka bekas tubuhnya ini tidak akan bermanfaat.

Beda 'ain dengan sihir

1. 'ain boleh ditimpakan oleh jin dan manusia sendiri.
2. 'ain boleh berlaku hanya dengan rasa takjub tanpa berserta iri hati ataupun berserta iri hati.
3. Sihir memerlukan syarat penyihir itu melakukan suatu perbuatan kufur / syirik
4. Pelaku 'ain kadang menimpa orang sholeh seperti yang terjadi di zaman nabi pada kasus Sahl dan Amir
5. Pada kasus 'ain si penyihir biasanya menggunakan benda atau media untuk menyihir korban, sedangkan 
    pada pelaku ain tidak memerlukan benda atau media untuk menyakiti korban

Jenis Manusia Yang Berpotensi Memberikan Ain kepada sesorang

1. Penyakit hati yang sangat kritikal (suka mengumpat, mencarut, mengeji, menghina)
2. Mereka yang sikapnya suka memuji dalam masa yang sama juga suka mengeji.
3. Potensi 'perempuan' lebih tinggi dari 'lelaki', namun banyak kes hanya melibatkan lelaki kerana sifat
    perempuan yang tidak menonjol dan muka adanya 'MALU' dalam diri berbanding lelaki.
4. Seorang yang pendiam
5. Jin yang jahat

Makhluk Yang Berpotensi Terkena Ain

1. Orang dewasa
2. Bayi / Anak yang sangat lucu
3. Benda-benda yang terlalu bagus dan indah contoh : mobil, rumah
4. Orang yang terlalu tampan atau jelita.
5. Hewan
6. Tumbuh-tumbuhan



Bagi anda yang membutuhkan terapi bekam di Bandung silahkan klik disini

CARA MENJAGA DIRI DARI PENYAKIT AIN

PENCEGAHAN PENYAKIT AIN



  • Seorang muslim menjaga perintah Allah dengan menjalankan perintah-Nya seperti shalat lima waktu berjamaah, berbakti kepada kedua orang tua, solat sunat, puasa sunat, membaca Al-Qur'an dan lain-lainnya. Menjauhkan diri dari larangan Allah, seperti tidak melihat sesuatu yang haram, meninggalkan musik dan lain-lainnya. Rasulullah saw bersabda, "Jagalah (perintah) Allah niscaya Allah akan menjagamu".
  • Memperbanyak dzikir yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan berdzikir di setiap waktu seperti dzikir setelah shalat lima waktu, dzikir pagi dan petang, dzikir akan tidur, dzikir bangun tidur dan lain-lainnya.
  • Apabila seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan pada diri saudaranya, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya (seperti mengucapkan: “Baarokallaahu fiyk”, Semoga Allah memberkahimu), inilah cara untuk mencegah penyakit ‘ain. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,


إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ ، أَوْ مِنْ نَفْسِهِ ، أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ ، فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

“Apabila seorang dari kalian melihat sesuatu dari saudaranya, atau melihat diri saudaranya, atau melihat hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuk saudaranya tersebut, karena sesungguhnya penyakit ‘ain benar-benar ada.” [HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amir, Ash-Shahihah, no. 2572]

Praktek untuk mengangkat musibah (sakit 'ain) dengan izin Allah  :

  • Yakin dan berbaik sangka kepada Allah ketika diruqyah dan jangan hanya sekedar mencoba-coba berobat dengan Al-Qur'an akan tetapi harus yakin bahwa di dalam Al-Qur'an ada obat. Allah berfirman: "Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selainkerugian". (QS. Al-Isra ': 82).
  • Mengagungkan Allah, kembali dan taubat kepada-Nya serta berdoa kepada-Nya. Dialah satu-satunya Pemberi kesembuhan. Jika engkau meruqyah dirimu sendiri, ini lebih utama dari pada diruqyah orang lain.
  • Berbuat baik kepada orang lain dan bersedekah.

Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menghilangkan musibah yang menimpa seorang mukmin dari musibah dunia, Allah akan menghilangkan untuknya musibah dari musibah akhirat. Barangsiapa yang memberikan fasilitas kepada seorang yang kesulitan, Allah akan memberikan fasilitas kepadanya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut mau menolong saudaranya ".Diriwayatkan oleh Muslim. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah, Rasulullah bersabda, "Obatilah orang-orang sakit kalian dengan sedekah". (Shahih Al-Jami ': 2358).

Apa kewajiban pemerintah? Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,


وَنَقَلَ ابن بَطَّالٍ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَإِنَّهُ يَنْبَغِي لِلْإِمَامِ مَنْعُ الْعَائِنِ إِذَا عُرِفَ بِذَلِكَ مِنْ مُدَاخَلَةِ النَّاسِ وَأَنْ يَلْزَمَ بَيْتَهُ فَإِنْ كَانَ فَقِيرًا رَزَقَهُ مَا يَقُومُ بِهِ فَإِنَّ ضَرَرَهُ أَشَدُّ مِنْ ضَرَرِ الْمَجْذُومِ الَّذِي أَمَرَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمَنْعِهِ مِنْ مُخَالَطَةِ النَّاسِ كَمَا تَقَدَّمَ وَاضِحًا فِي بَابِهِ وَأَشَدُّ مِنْ ضَرَرِ الثُّومِ الَّذِي مَنَعَ الشَّارِعُ آكِلَهُ مِنْ حُضُورِ الْجَمَاعَةِ قَالَ النَّوَوِيُّ وَهَذَا الْقَوْلُ صَحِيحٌ مُتَعَيِّنٌ لَا يُعْرَفُ عَنْ غَيْرِهِ تَصْرِيحٌ بِخِلَافِهِ

“Ibnu Baththol rahimahullah telah menukil dari sebagian ulama bahwa sepatutnya bagi pemerintah untuk mencegah orang yang bisa menimpakan penyakit ‘ain agar tidak menemui orang-orang, apabila memang ia sudah dikenal dengan itu, dan hendaklah ia tetap tinggal di rumahnya, apabila ia fakir maka pemerintah hendaklah memberi santunan yang mencukupinya, karena bahayanya lebih besar dibanding penderita kusta yang diperintahkan oleh Khalifah Umar radhiyallahu’anhu untuk tidak bergaul dengan orang-orang sebagaimana telah dijelaskan pada babnya, dan juga ia lebih berbahaya dari orang yang makan bawang, yang telah dilarang oleh penetap syari’at untuk menghadiri sholat jama’ah (hanya karena bau busuknya). An-Nawawi rahimahullah berkata: Pendapat ini benar sekali, tidak ada ulama yang terang-terangan menyelisihinya.” [Fathul Baari, 10/206]

Mengenakan jimat untuk mencegah dan mengobati penyakit ‘ain termasuk syirik, demikian pula mendatangi dukun untuk mengobati peyakit ’ain termasuk syirik dan kufur kepada Allah ta’ala, dan syari’at telah memberikan solusi yang terbaik, yaitu dengan bertawakkal kepada Allah ta’ala, berharap dan berdo’a hanya kepada-Nya, disertai melakukan sebab-sebab pencegahan dan pengobatan yang dibolehkan.


Tindakan Preventif  Terhadap Penyakit ‘Ain


Para orang tua hendaknya berusaha melindungi buah hatinya agar terhindar dari penyakit ‘ain, dengan cara:

Melindungi diri dan anaknya dengan membaca ruqyah-ruqyah yang diajarkan dalam Islam dan membaca doa,

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan dari setiap mata yang jahat.” (Riwayat Bukhari)

Juga membaca doa yang digunakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melindungi Hasan dan Husain,

“Aku berlindung kepada Allah untukmu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang yang berbisa, dan pandangan mata yang jahat.” (Riwayat Bukhari)

Siapapun orangnya jika melihat sesuatu yang baik ada pada dirinya, anaknya, hartanya atau yang lainnya yang menakjubkan dirinya, hendaklah membaca doa,
“ Masya Allah (atas kehendak Allah), tidak ada kekuatan melainkan hanya dengan (pertolongan) Allah. Ya Allah, berikan berkah padanya.”

Sebaiknya orang tua tidak mengungkapkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki anaknya, karena hal itu dikhawatirkan akan menimbulkan iri pada orang lain.

Apabila Terkena ‘Ain

Saat anak kita mengalami sakit dan ternyata sakitnya karena ‘ain, maka:
Jika pelakunya diketahui, maka orang tersebut diperintahkan untuk berwudhu.

Bekas wudhu orang tersebut digunakan untuk memandikan anak yang terkena ‘ain.

Tapi jika pelakunya tidak diketahui perbanyak membaca :

- surat Al-Ikhlas,
- muawwidzatain (An-Nas dan Al-Falaq),
- Al-Fatihah,
- ayat Kursi,
- 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah, dan
- mendoakan dengan doa-doa yang disyariatkan.

Membaca pada air disertai tiupan, kemudian diminumkan pada anak yang sakit dan sisanya disiramkan ke tubuhya, atau dibacakan pada minyak dan minyaknya dioleskan ke tubuhnya.

Lebih baik lagi jika bacaan itu dibacakan pada air zam-zam.
Orang tua mana yang tidak ingin anaknya dapat tumbuh dengan sehat dan selamat.

Oleh karenanya perlu bagi orang tua untuk senantiasa memperhatikan kondisi jasmani maupun psikolagi anaknya, baik ditinjau dari sisi kedokteran secara umum atau secara syar’i.

Cara mencegah dan mengobati ‘ain pada anak

  • sering-sering membacakan doa perlindungan kepada anak ketika anda bersama anak anda. Doa tersebut adalah

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“Aku berlindung kepada Allah untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang jahat.”[HR Abu Daud]

  • jangan terlalu sering menceritakan atau membangga-banggakan anak kita pada orang lain
  • jik asudah terkena maka bisa menempuh cara berikut:

Dari ‘Aisyah radliallaahu ‘anha ia berkata,

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان يؤمر العائن فيتوضأ ثم يغتسل منه المعين

“Orang yang melakukan ‘Ain diperintahkan agar berwudlu kemudian orang yang terkena ‘Ain mandi dari air (bekas wudlu tadi)”[HR. Abu Dawud, shahih]

–menaruh tangan ke atas kepala penderita ‘Ain kemudian membaca doa


بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اللهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari setiap sesuatu yang menyakitimu dab dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang dengki. Allah-lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu” [HR.Muslim no. 2186]

Atau doa,

بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَمِنْ شَرِّ ذِيْ عَيْنٍ

“Dengan nama Allah, mudah-mudahan Dia membebaskanmu, dari setiap penyakit, mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu, melindungimu dari kejahatan orang dengki jika dia mendengki dan dari kejahatan setiap orang yang mempunyai ‘Ain (mata dengki)”[HR. Muslim no 2185]

– meruqyah dengan membaca surat  Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas

Dan doa-doa shahih yang lainnya.

Cara mencegah penyakit ‘ain adalah:


  1. Hendaknya sebagai muslim, apabila seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya ia mendoakan keberkahan (misal mengucapkan Barakallahu fiik) kepada saudaranya. Hal ini sesuai hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  “Apabila seorang dari kalian melihat sesuatu dari saudaranya, atau melihat diri saudaranya, atau melihat hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuk saudaranya tersebut, karena sesungguhnya penyakit ‘ain benar-benar ada.” [HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amir, Ash-Shahihah, no. 2572]
  2. Kunci utama agar terjauhkan dari ‘ain adalah mendekatkan diri pada Allah dengan tawakkal pada-Nya, juga selalu rutinkan dzikir setiap harinya agar diri dan anak kita selamat dari orang yang hasad (dengki). Hanya kepada Allah tepat berlindung sebagaimana disebutkan dalam surat Al Falaq, kita berlindung dari kejelekan orang yang hasad ketika ia hasad.

Ada upaya pencegahan, ada upaya pengobatan. Hal yang terpenting untuk kita lakukan adalah mencegah sebelum terjadi. Alhamdulillah, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan ini dengan rinci, diantaranya,

Pertama, sering doakan anak agar terhindar dari ‘ain

Diantara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut,


أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لامَّةٍ

Aku memohon perlindungan untukmu dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pAndangan mata buruk.

Kita bisa meniru doa beliau ini, dengan penyesuaian jenis kelamin bayi.

1. Jika bayi yang dilahirkan perempuan, Anda bisa baca,

أُعِيذُكِ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzuki…

2. Jika bayi yang lahir laki-laki, kita bisa membaca,

أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzuka…

Berbeda pada kata ganti; ‘…ka’ dan ‘…ki’

Dalilnya

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bercerita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain. Lalu beliau membaca,

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

 Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk. (HR. Bukhari 3371, Abu Daud 3371, dan yang lainnya).

Kedua, jika memuji fisik anak, jangan lupa berdzikir

Perasaan gemes campur cinta membuat orang dewasa di sekitarnya memuji anak bayi. Sayangnya, jarang yang diiringi dengan berdzikir kepada Allah. Ketika itu, si bayi sangat rentan terkena ‘ain.

Anda mungkin sering melihat, ada bayi yang diajak untuk menghadiri kumpul-kumpul banyak orang. Lalu setelah sampai rumah tiba-tiba badannya panas, suka menangis, dst. Bisa jadi, itu pengaruh ‘ain.

Ketiga, hindari memberi dandanan yang menor pada anak, sehingga membuatnya semakin menggemaskan ketika dipandang.

Sumber ‘ain adalah pandangan mata takjub atau mata hasad.

Ketika anak dikasih dandanan yang sangat menarik, ini bisa membahayakan dirinya. Terlebih ketika dia hendak dibawa di acara yang dihadiri banyak orang.

Ibnul Qoyim menasehatkan,

ومن علاج ذلك أيضاً والاحتراز منه سترُ محاسن مَن يُخاف عليه العَيْن بما يردُّها عنه

Termasuk juga cara pengobatan ‘ain, menutupi bagian yang menarik dari anak, yang dikhawatirkan menjadi sumber ‘ain, ditutupi dengan yang membuatnya kurang menarik.

Kemudian Ibnul Qoyim membawakan keterangan riwayat dari al-Baghawi,

ذكر البغوىُّ فى كتاب “شرح السُّنَّة”: أنَّ عثمان رضى الله عنه رأى صبياً مليحاً، فقال: دَسِّمُوا نُونَتَه، لئلا تُصيبه العَيْن، ثم قال فى تفسيره: ومعنى “دسِّمُوا نونته” أى: سَوِّدُوا نونته

Al-Baghawi menyebutkan dalam kitabnya Syarhus Sunah, bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu pernah melihat anak kecil yang sanat lucu. Lalu beliau berpesan, “Beri olesan hitam di lesung pipinya, agar dia tidak terkena ‘ain. (Zadul Ma’ad, 4/173).

Termasuk juga, pesan bagi orang tua, hindari menceritakan semua kelebihan anaknya yang tidak dimiliki anak-anak lain, sehingga mengundang rasa iri orang yang mendengarnya. Yang ini ketika sampai dia melihat si anak dalam kondisi iri, bisa jadi Allah menakdirkan terjadinya pengaruh buruk ‘Ain.

Keempat, tidak kalah penting, mengisi ruang dengar di rumah dengan bacaan al-Quran.

Karena rumah yang dijejali dengan ibadah, akan lebih menyejukkan bagi penghuninya dan dijauhi oleh setan. Sementara rumah yang dijejali dengan musik, hanya akan mengundang setan.

Nasihat saya, janganlah terlalu takjub dengan ciptaan Allah SWT. Seandainya timbul perasaan itu, cepat-cepatlah meminta perlindungan daripada Allah SWT. Sebutlah "MassyaAllaah, laa quwwata illaa billaah.


مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

seperti dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Kahfi ayat 39 dan 40


وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

Maksudnya: Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. Maka mudah-mudahan Tuhanku akan mengurniakan daku lebih baik daripada kebunmu, dan (aku bimbang) dia akan menimpakannya dengan bala, bencana dari langit, sehinggalah menjadilah kebunmu itu tanah yang licin tandus.

(Maksud surah Al-Kahfi ayat 39 dan 40)

Atau baca saja isti`azah atau ta`awwudz:

أَعُوْذُ باِللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

(Aku berlindung dari Allah dari syaitan yang direjam.)

Allah SWT ada beri sedikit panduan. Di dalam Al-Qur’an, Surah Al-A'raaf, ayat 200 yang maksudnya:

"Dan jika engkau dihasut oleh sesuatu hasutan dari syaitan, maka mintalah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui."

Penyakit ‘Ain adalah penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk pandangan mata,yaitu pandangan mata yang disertai rasa takjub atau bahkan iri dan dengki terhadap apa yang dilihatnya.

Dari Amir bin Robi’ah rodhiyallohu anhu :


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ


Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). [HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amir,Ash-Shahihah, no. 2572]‎.

Apabila seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan pada diri saudaranya, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya (seperti mengucapkan, BaarokaLlaahu fiyk: Semoga Allah memberkahimu), inilah cara untuk mencegah penyakit ‘ain. 

Adapun diantara sunnah ketika seseorang memandang takjub terhadap sesuatu adalah :

1. Medoakan keberkahan pada apa yang dilihatnya

Di antara cara mendoakan keberkahan terhada apa yang dilihatnya adalah :

بَارَكَ اللَّهُ فِيهِ

‘Ya Alloh Semoga Alloh memberikan berkah padanya”


اللَّهُمَّ بَارِكْعَلَيْهِ

“Ya Alloh berkahilah atasnya”


اللَّهُمَّ بَارِكْلَهُ

“Ya Alloh berkahilah baginya”

 ‎
2. Hendaklah mengucapkan :

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Sungguh atas kehendak Allohlah semua ini terwujud”‎

Hal ini didasari firman Alloh dalam surat Al-Kahfi ayat 39. Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan :”Ketika engkau masuk suatu kebun dan kau merasa takjub akan keindahannya,mengapa engkau tidak memuji Alloh atas nikmat yang telah diberikan kepadamu seperti nikmat harta dan anak keturunan yang tidak diberikan kepada selain engkau dan mengapa kamu tidak mengucapkan masya’Alloh la quwwata illa billah.

Upaya-upaya orang tua untuk mengantisipasi anak dari ‘Ain:

1. Hendaklah orang tua membiasakan diri mereka membentengi anak-anaknya dari bahaya ‘ain dengan ruqyah-ruqyah (bacaan-bacaan) yang diajarkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memperlindungkan anak-anak kepada Allah ta’ala dari penyakit ‘ain, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata,


كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah memperlindungkan Al-Hasan dan Al-Husain (kepada Allah ta’ala):


أَعُيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“U’idzukuma bi kalimaatillaahit taammati min kulli syaithonin wa haamatin wa min kulli ‘ainin laamatin.”

“Aku memperlindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang maha sempurna dari setan, binatang berbisa dan mata yang dengki (makna yang lain: segala macam bahaya).”

Dan beliau bersabda (kepada Al-Hasan dan Al-Husain), sesungguhnya bapak kalian berdua (yaitu nabi Ibrahim ‘alaihissalam) memperlindungkan Ismail dan Ishaq dengan doa ini.” [HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma]
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam memohon perlindungan Alloh untuk Hasan dan Husain dengan doa :

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Aku berlindung kepada Alloh untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang jahat. (HR Abu Daud)

2. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam zadul ma’ad 4/159, hendaknya para orang tua tidak menampakkan suatu kelebihan yang menakjubkan yang dimiliki anak-anaknya yang dikhawatirkan akan mengundang rasa iri atau kedengkian orang yang melihatnya. Lalu Ibnu qoyyim menukil atsar dari Imam Baghowi bahwasanya pernah suatu ketika Utsman bin Affan rodhiyallohu anhu melihat seorang anak kecil yang sangat elok rupanya lagi menawan, kemudian Ustman berkata, “Tutupilah (jangan ditampakkan) lubang dagu (yang membuat orang takjub) pada anak itu.” Maka keadaan seperti itu sangat dikhawatirkan akan terjadinya pengaruh buruk ‘ain. Lebih-lebih kalau ada orang yang terkenal mempunyai sifat iri dan dengki.

3. Hendaklah para orang tua tidak berlebihan menceritakan kelebihan-kelebihan atau kebaikan-kebaikan anaknya yang tidak dimiliki anak-anak lain, sehingga mengundang rasa iri dan dengkii siapa saja yang mendengarnya,kemudian berusaha melihatnya,hingga Alloh menakdirkan terjadinya pengaruh buruk ‘Ain tersebut.


Bagi anda yang membutuhkan terapi bekam di Bandung silahkan klik disini


JENIS-JENIS PENYAKIT AIN

PENYAKIT AIN TERBAGI MENJADI DUA BAGIAN



  1. Penyakit 'Ain Insaniyah, yaitu penyakit pengaruh pandangan mata yang disebabkan murni oleh pengaruh pandangan mata manusia.
  2. Penyakit 'Ain Jinniyah, yaitu  penyakit pengaruh pandangan mata karena disebabkan adanya campur tangan gangguan jin. 'Ain  Adalah  Bagian Dari Takdir


Ibnu Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa penyakit ‘ain ada dua jenis, yaitu ‘ain insi atau ‘ain yang berunsur manusia, dan ‘ain jinni atau ‘ain yang berunsur jin.

Diriwayatkan dengan shahih dari Ummu Salamah bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah melihat seorang budak wanita di rumahnya yang wajahnya terlihat kusam. Beliau berkata,”Ruqyah wanita ini, ia terkena ‘ain. (Dikeluarkan oleh Al-Bukhori dan Muslim,Al-Hakim,Abu Nu’aim dan Al-Isma’ili dalam Mustakhroj-nya serta Ath-Thobroni)

Al-Hus’ain bin Mas’ud Al-Farro berkata: Adapun sabda beliau “sa’fatun” yang berarti kusam adalah bermakna “Nadzrotun”, yaitu terkena ‘ain dari unsur jin.

Bayi yang baru lahir dan anak-anak sangat rentan terkena penyakit ‘ain. Apalagi jika bayi atau anak itu mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki bayi atau anak yang lain, seperti kelucuannya, rupanya yang manis, kesehatannya, dan lain-lain yang mengundang perhatian siapa saja yang melihatnya.

Adapun diantara tanda-tanda anak yang terkena pengaruh buruk ‘ain adalah :

Pertama, Tangisan yang tidak wajar yang tidak kunjung berhenti, kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu kepada ibunya tanpa sebab yang jelas.

Dalam shahihul Jami’ disebutkan bahwa Aisyah radhiyallohu ‘anha berkata: “Suatu ketika Nabi masuk (rumahnya) kemudian mendengar bayi sedang menangis. Beliau berkata, ”Mengapa bayi kalian menangis? Mengapa tidak kalian bacakan ruqyah-ruqyah (supaya sembuh) dari penyakit ‘ain?”

Kedua, Kondisi tubuh yang sangat kurus kering

Sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Ahmad dan Baihaqi, dari Jabir rodhiyallohu anhu bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam memberi rukhshoh atau keringanan bagi anak-anak Ja’far memakai bacaan ruqyah dari sengatan ular. Beliau berkata kepada Asma’ binti Umais, ”Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma’ menjawab: “tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain.” Nabi bersabda, ”Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!”

Ibnu Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa terkadang seseorang bisa mengarahkan ‘ain kepada dirinya sendiri. Pelakunya termasuk jenis manusia yang paling jahat.

Namun terkadang pengaruh buruk ‘ain terjadi tanpa kesengajaan dari orang yang memandang takjub terhadap sesuatu yang dilihatnya. Lebih dari itu pengaruh buruk ini juga bisa terjadi dari orang yang hatinya bersih atau orang-orang yang sholih sekalipun mereka tidak bermaksud menimpakan ‘ain kepada apa yang dilihatnya. Hal ini pernah terjadi diantara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal hati mereka terkenal bersih, tidak ada rasa iri atau dengki terhadap sesamanya. Akan tetapi dengan izin Alloh dan takdirnya, pengaruh buruk ‘ain ini dapat terjadi diantara mereka.

Aisyah radhiallahu anha berkata,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَ صَوْتَ صَبِيٍّ يَبْكِي فَقَالَ مَا لِصَبِيِّكُمْ هَذَا يَبْكِي فَهَلَّا اسْتَرْقَيْتُمْ لَهُ مِنْ الْعَيْنِ

“Suatu ketika Nabi masuk (rumahnya) kemudian mendengar bayi sedang menangis.Beliau berkata,”Mengapa bayi kalian menangis?Mengapa tidak kalian bacakan ruqyah-ruqyah (supaya sembuh) dari penyakit ‘ain?)”[3]

Bisa juga gejalanya bayi menjadi sangat kurus kering,

عَنْ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِآلِ حَزْمٍ فِي رُقْيَةِ الْحَيَّةِ وَقَالَ لِأَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ مَا لِي أَرَى أَجْسَامَ بَنِي أَخِي ضَارِعَةً تُصِيبُهُمْ الْحَاجَةُ قَالَتْ لَا وَلَكِنْ الْعَيْنُ تُسْرِعُ إِلَيْهِمْ قَالَ ارْقِيهِمْ

Dari Jabir radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam memberi rukhshoh (keringanan) bagi anak-anak Ja’far memakai bacaan ruqyah dari sengatan ular. Beliau berkata kepada Asma’ binti Umais,”Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma’ menjawab : “tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘Ain.” Kata beliau,”Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!”[4]

Ain bisa mengena ke barang

‘Ain tidak hanya bisa menimpa pada orang, tapi juga bisa mengena ke barang, misalnya : ada mobil baru, lantas kita memujinya, baik dengan kebencian maupun sekedar kekaguman biasa. Hal itu bisa menyebabkan kecelakaan/mobil tabrakan. Oleh karena itu, biasakan melindungi barang-barang kita dengan kalimat “Masya Allah Tabarakallah”, misalnya dengan menempel tulisan pada rumah, mobil, dan harta benda kita yang lainnya.

Anda bisa Menimpakan ‘Ain kepada Orang yang Anda cintai
Dari awal kita sudah menjelaskan bahwa penyakit ‘Ain tidak hanya berasal dari pandangan jahat, tapi bisa juga dari pandangan penuh kekaguman terhadap apa yang kita cintai, misalnya : kepada anak, suami, istri, barang-barang kesayangan, dan lain sebagainya. Meskipun Anda tidak memiliki penyakit ‘Ain, tetap harus hati-hati, pastikan mengucapkan “Masya Allah  Tabarakallah” ketika memuji anak, istri, suami, atau barang kesayangan Anda. Dari Abu Said ra, Jibril as. mendatangi Nabi Muhammad Saw. Kemudian bertanya:“Wahai Muhammad, apakah kamu mengeluh (sakit)?” beliau menjawab,”iya.” Kemudian Jibril membaca yang artinya:”Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan segala makhluk atau kejahatan mata yang dengki. Allah-lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu.”

Dari Abu Said Al-Khudri ra. Dia berkata:” Dahulu rasulullah Saw. meminta perlindungan dari penyakit ain yang berasal dari jin dan dari manusia. Kemudian saat turun Al-muawwidzatain, beliau pun menggunakan keduanya dan meninggalkan selain itu.” (HR. AT-Tirmidzi).  Hadits tersebut menunjukkan bahwa perlindungan dari ain itu sudah cukup dengan Al-muawwidzatain.

Ketika Rasulullah Saw, masuk menemui Ummu Salamah ra. Beliau melihat pada budak perempuannya, ada tanda hitam akibat ain jin, beliau langsung bersabda:“Mintalah ruqyah untuknya, karena ia terkena ain dari jin.” (HR. Bukhori Muslim).

Penyakit ‘ain, yaitu penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

والعين نظر باستحسان مشوب بحسد من خبيث الطبع يحصل للمنظور منه ضرر

“Dan ‘ain itu adalah pandangan suka disertai hasad yang berasal dari kejelekan tabiat, yang dapat menyebabkan orang yang dipandang itu tertimpa suatu bahaya.” [Fathul Bari, 10/200]‎

Bagi anda yang membutuhkan terapi bekam di Bandung silahkan klik disini

AKIBAT PENYAKIT AIN ( PANDANGAN MATA )

AKIBAT PENYAKIT ‘AIN


Dari penjelasan di atas, tidak diragukan lagi akan adanya ‘ain. Untuk mempermudah dalam mengambil faidah berikut ini merupakan akibat penyakit ‘ain berdasarkan hadits yang datang sebagaimana di atas:

  • Dapat mengakibatkan kematian.
  • Sakit yang bertingkat-tingkat kadarnya sesuai dengan kadar penyakit ‘ain yang dilemparkan, dan sering kali datang secara tiba-tiba seperti terbaring tak berdaya sebagaimana pada hadits Sahl radhiyallahu ‘anhu, wajah terdapat warna kehitam-hitaman, dan badan kurus.

Betapa ayah dan ibu akan berduka bila pandangan mata itu menimpa sang buah hati, mereka akan berusaha sekuat tenaga di atas jalan Allah dan Rasul-Nya untuk menghindarkannya, jauh sebelum ‘ain itu datang menerpa. Buah hati tercinta, semogalah selamat selamanya.

Perhatikanlah bagaimana orang mampu menghipnotis orang lain dengan sugesti dan pandangan matanya...!!

Perhatikan pula bagaimana pengaruh pandangan mata orang yang mencintai seseorang kepada kekasihnya..Subhanallah!!

Berlindunglah kepada Allah swt dari pandangan mata yang membahayakan kita!!

Kunci utama agar terjauhkan dari ‘ain adalah mendekatkan diri pada Allah dengan tawakkal pada-Nya, juga selalu rutinkan dzikir setiap harinya agar diri dan anak kita selamat dari orang yang hasad (dengki).

Hanya kepada Allah tempat berlindung sebagaimana disebutkan dalam surat Al Falaq, kita berlindung dari kejelekan orang yang hasad ketika ia hasad.

Wallahu a’lamu bish shawab

“Maknanya bahwa orang yang tertimpa bahaya karena sesuatu yang telah Allah ta’ala tetapkan ketika seseorang memandangnya, hakikatnya terjadi dengan takdir Allah ta’ala yang telah ditetapkan sebelumnya, bukan sesuatu yang baru saja diciptakan oleh orang yang memandang terhadap yang dipandang.” [Fathul Baari, 10/203]

Hadits yang mulia ini juga menunjukkan besarnya bahaya yang Allah ta’ala ciptakan dalam penyakit ‘ain, bahkan bisa membunuh, maka jangan diremehkan. An-Nawawi rahimahullah berkata,

فِي الْحَدِيثِ إِثْبَاتُ الْقَدَرِ وَصِحَّةُ أَمْرِ الْعَيْنِ وَأَنَّهَا قَوِيَّةُ الضَّرَر

“Dalam hadits ini terdapat penetapan keimanan terhadap takdir Allah ta’ala dan benarnya perkara ‘ain dan bahwasannya ia sangat berbahaya.” [Fathul Baari, 10/204]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وَأَنَّ الْإِصَابَةَ بِالْعينِ قد تقتل وقد اختلف فِي جَرَيَانِ الْقِصَاصِ بِذَلِك

“Bahwa menimpakan penyakit ‘ain bisa saja membunuh, dan telah terjadi khilaf ulama tentang penerapan hukum qishosh padanya.” [Fathul Baari, 10/205]


Hadits ibnumajah 3501

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ رِفَاعَةَ الزُّرَقِيِّ قَالَ قَالَتْ أَسْمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ بَنِي جَعْفَرٍ تُصِيبُهُمْ الْعَيْنُ فَأَسْتَرْقِي لَهُمْ قَالَ نَعَمْ فَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ

Ya. Jika ada sesuatu yg mendahului takdir, maka 'ain lah yg mendahuluinya. [HR. ibnumajah No.3501].
Hadits ibnumajah No.3501 Secara Lengkap

[[[Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin 'Uyinah] dari ['Amru bin Dinar] dari ['Urwah bin 'Amir] dari ['Ubaid bin Rifa'ah Az Zuraqi] dia berkata, "Asma berkata, "Wahai Rasulullah, anak-anak Ja'far tertimpa penyakit 'ain, maka ruqyahlah mereka! " Beliau menjawab: "Ya. Jika ada sesuatu yang mendahului takdir, maka 'ain lah yang mendahuluinya."]]]


Adapun hadits Nabi, maka sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir Radliyallaahu ‘anhu ia berkata : telah bersabda Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

“Al-‘Ain adalah haq (benar), dapat memasukkan seseorang ke dalam kuburan dan dapat memasukkan onta ke dalam kuali (mati)” [HR. Ibnu ‘Adi 6/407 biografi no.1890 dari Mu’awiyyah bin Hisyam Al-Qashshaar, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 7/90, Al Khathiib 9/244, Al-Qadlaa’I 2/140 no. 1059; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahiihul-Jaami’ no.4144].

Bagi anda yang membutuhkan terapi bekam di Bandung silahkan klik disini

GEJALA PENYAKIT AIN

TANDA-TANDA TERKENA AIN


A. TANDA AIN BAGI ORANG DEWASA


Jika seseorang sehat dari penyakit jasmani, maka gejalanya secara umum :

  1. Pusing
  2. Wajah pucat
  3. banyak keluar keringat dan sering kencing
  4. Tidak nafsu makan
  5. Kesemutan, kepanasan atau kedinginan pada bagian tubuh.
  6. Detak jantung tdk teratur
  7. Rasa sakit yg selalu berpindah-pindah pada bawah punggung dan bahu
  8. Merasa sedih dan tertekan
  9. Susah tidur di malam hari
  10. Emosi yg berlebihan, Rasa takut (paranoid) dan marah yg tdk wajar
  11. Sering bersendawa dan menarik nafas panjang (dada sesak)
  12. Sering menyendiri, tdk bersemangat, malas, banyak tidur, dan masalah-masalah kesehatan lain yg sebabnya bukan karena bukan faktor medis.

TANDA-TANDA KORBAN PANDANGAN MATA JAHAT :

  1. Ngantukan dan selalu ingin tidur‎
  2. Kerjanya ingin “ngulet” seperti orang yang baru bangun tidur‎
  3. Rasa lemah dan berat di bagian tubuh secara menyeluruh atau di salah satu bagian dari kedua betis‎
  4. Banyak mengeluarkan keringat, terutama di daerah kening dan punggung‎
  5. Orang yang dipandang sering merasa mual dan muntah tanpa sebab‎
  6. Mengalami rasa mulas yang berkepanjangan dan diare tanpa sebab medis‎
  7. Banyak mengeluarkan air liur dan terkumpul di mulut‎
  8. Banyak bersendawa‎
  9. Orang yang kena pandang kadang sering ingin merasa menangis tanpa sebab‎
  10. Rasa dingin di ujung-ujung bagian tubuh, terutama tangan dan kaki‎
  11. Rasa cekot-cekot di bagian ujung tubu‎h
  12. Rasa gatal di seluruh tubuh atau di sebagian saja‎
  13. Denyut jantung tak beraturan dan terkadang berdegup sangat kencang‎
  14. Rasa panas di badan, seperti demam, dan kadang hanya pada di bagian ujung tubuh saja‎
  15. Mata berkedip cepat, tidak kuat melek lama‎
  16. Melihat banyak mata memandang ke arahnya, baik di dalam mimpi maupun ketika sadar‎
  17. Ketika mendengar ayat-ayat al-Qur’an, terutama ayat ruqyah, ia akan sering menguap dengan mengularkan air mata‎
  18. Nyeri di bagian punggung bawah dan rasa berat di kedua pundak‎
  19. Marah yang tak wajar, stress tanpa sebab, gundah tanpa sebab, dan yang semacamnya‎
  20. Sangat sulit konsentrasi dalam pekerjaan dan pelajaran‎
  21. Mogok kerja atau mogok masuk kelas tanpa alasan yang jelas‎
  22. Tidak bisa berdiam diri, kadang kaki selalu ingin gerak‎
  23. Insomnia‎
  24. Tidak betah di rumah, seakan terpenjara dan tersiksa di dalam rumah, atau malah sebaliknya‎
  25. Sering bermimpi yang berkaitan dengan mata, atau dalam kasus lain berupa ular

Untuk menangkal al-'Ain, istiqomahkan dzikir pagi dan petang, terutama ayat kursi dan 3 qul... (Surat Al Ikhlas. Al falak dan Annas)‎
Bisa juga dengan mengkonsumsi kurma ajwa di setiap pagi...


B.  TANDA-TANDA ANAK / BAYI YANG TERKENA AIN


Bayi yang baru lahir dan anak-anak sangat rentan terkena penyakit ‘ain. Apalagi kalau bayi/anak itu mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki bayi/anak yang lain, seperti kelucuannya,rupanya yang manis ,kesehatannya, dan lain-lain yang mengundang perhatian siapa saja yang melihatnya.

Adapun diantara tanda-tanda anak yang terkena pengaruh buruk ‘ain adalah :

1.Tangisan yang tidak wajar yang tidak kunjung henti,kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu kepada ibunya tanpa sebab yang jelas.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَ صَوْتَ صَبِيٍّ يَبْكِي فَقَالَ مَا لِصَبِيِّكُمْ هَذَا يَبْكِي فَهَلَّا اسْتَرْقَيْتُمْ لَهُ مِنْ الْعَيْنِ

Aisyah rodhiyallohu anha berkata : “Suatu ketika Nabi masuk (rumahnya) kemudian mendengar bayi sedang menangis.Beliau berkata,”Mengapa bayi kalian menangis?Mengapa tidak kalian bacakan ruqyah-ruqyah (supaya sembuh) dari penyakit ‘ain?) (Shahihul jami’ 988 n0.5662)
2. Kondisi tubuh yang sangat kurus kering

عَنْ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِرَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِآلِ حَزْمٍ فِي رُقْيَةِ الْحَيَّةِ وَقَالَ لِأَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ مَا لِي أَرَى أَجْسَامَ بَنِي أَخِي ضَارِعَةً تُصِيبُهُمْ الْحَاجَةُ قَالَتْ لَا وَلَكِنْ الْعَيْنُ تُسْرِعُ إِلَيْهِمْ قَالَ ارْقِيهِمْ

Dari Jabir rodhiyallohu anhu bahwa Rosulullohshollallohu alaihi wa sallam memberi rukhshoh (keringanan) bagi anak-anak Ja’far memakai bacaan ruqyah dari sengatan ular. Beliau berkata kepada Asma’ binti Umais,”Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma’ menjawab : “tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘Ain.” Kata beliau,”Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka! (HR Muslim, Ahmad dan Baihaqi)

Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.

Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Pada suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,

ما لِصبيِّكم هذا يبكي قهلاََ استرقيتم له من العين

“Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ‘ain?” (HR. Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304).


Penyakit yang diderita anak-anak tidak semuanya bisa dideteksi dengan ilmu kedokteran. Ada juga sebab syar’i yaitu penyakit ‘ain. Sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pernah melihat anak perempuan di rumah Ummu Salamah istri beliau. Di wajah anak itu ada warna kehitaman. Beliau kemudian berkata kepada Ummu Salamah,“Ruqyahlah dia, karena dia terkena ‘ain.” (HR. Bukhari dan Muslim)




Begitu pula hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais, “Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma menjawab, “Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain”. Beliau berkata, “Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)


Penyakit ‘ain tidak hanya disebabkan oleh orang yang iri dan dengki terhadap sesuatu yang dipandangnya. Bahkan setiap mata yang memandang takjub terhadap sesuatu dengan izin Alloh juga bisa menyebabkan pengaruh buruk ‘ain walaupun orang tersebut tidak bermaksud menimpakan ‘ain. Bahkan ini terjadi pada para sahabat Nabi yang sudah terkenal akan kebersihan hati mereka.

WALLAHU 'ALAM

Bagi anda yang membutuhkan terapi bekam di Bandung silahkan klik disini