Sabtu, 30 September 2017

Terapi Untuk Mengobati Kesedihan dan Kepahitan Hidup

Petunjuk Nabi Mengenai Terapi Terhadap

Kepahitan Dan Kepedihan Musibah

 

Allaah SWT berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذا أَصابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قالُوا: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ راجِعُونَ أُولئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَواتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Dalam Al-Musnad diriwayatkan bahwa Rasulullaah bersabda:

«مَا مِنْ أَحَدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَارَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا»

“Setiap orang yang tertimpa musibah lalu ia mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allaah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali jua), ya Allaah berikanlah kepadaku pahala atas musibah yang menimpaku ini dan berikanlah kepadaku ganti yang lebih baik darinya,” pasti ia akan mendapatkan pahala dari Allaah dengan musibah tersebut dan mendapatkan ganti yang lebih baik lagi darinya.”

Kalimat Istirja’ (ucapan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun dan doa tersebut di atas) adalah ucapan paling ampuh untuk mengobati sakit karena musibah, amat mujarab bagi orang yang tertimpa musibah di dunia dan di akhirat. Karena kalimat itu mengandung dua pokok penting yang bila diketahui oleh seorang hamba dengan sebaik-baiknya pasti ia akan terhibur dari musibahnya.

Pokok pertama : Bahwa seorang hamba, keluarga, dan hartanya adalah benar-benar milik Allaah SWT. Semua itu diberikan kepada seorang hamba hanya sebagai pinjaman belaka. Kalau Allaah mengambilnya kembali, tak ubahnya pemberi pinjaman mengambil kembali pinjamannya dari peminjam.

Demikian pula, bahwa segala sesuatu itu diapit oleh dua kali ketidakadaan: sebelumnya pernah tidak ada dan akan kembali menjadi tidak ada. Milik seorang hamba hanya barang yang dipinjam untuk waktu yang sementara saja. Karena bukan dia yang menciptakan barangnya tersebut dari ketidakadaannya sebelum itu sehingga ia bisa mengakuinya sebagai milik pribadi yang sesungguhnya. Bukan pula dia yang menjaga barang tersebut dari kerusakan setelah keberadaannya, ia tidak bisa melestarikan keberadaan barang tersebut. Ia tidak memiliki pengaruh atau kepemilikan sesungguhnya terhadap barang itu. Ia hanya bisa mengurus barang itu sebagaimana layaknya orang yang diperintah dan dilarang, bukan sebagaimana layaknya pemilik sesungguhnya. Oleh sebab itu, ia hanya bisa mengurus barangnya itu sesuai dengan perintah dari Pemilik sesungguhnya, yaitu Allaah SWT.

Pokok kedua : Tempat kembali dan berpulangnya seorang hamba hanyalah kepada Allaah, Sang Penguasa yang Haq. Ia pasti akan meninggalkan dunia ini di belakang punggungnya, untuk kembali kepada Allaah seorang diri, seperti dahulu ia diciptakan, tanpa sanak saudara, tanpa harta dan tanpa keluarga. Namun yang dibawanya hanyalah kebajikan dan keburukan. Kalaulah demikian awal keberadaan seorang hamba dan akhir keberadaannya, bagaimana ia harus bergembira sedemikian rupa atas adanya sesuatu, atau bersedih sedemikian rupa karena kehilangan sesuatu! Sugesti seorang hamba kapanpun juga menjadi hal yang paling prinsipil untuk mengobati penyakit ini.

Di antara kiat penyembuhannya adalah dengan menyadari seyakin-yakinnya bahwa segala yang menimpanya tidak akan pernah meleset. Sementara segala yang tidak akan menimpanya tidak akan pernah mengenainya.

Allaah SWT berfirman:

مَا أَصابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَها إِنَّ ذلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلى مَا فاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِما آتاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتالٍ فَخُورٍ

“Tidak sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allaah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allaah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al-Hadid: 22-23)

Kiat lain adalah dengan memandang musibah itu sendiri sehingga ia menyadari bahwa Rabbnya itu menyediakan sesuatu yang lebih kekal dan lebih baik dari musibah itu, namun menyimpannya untuk di akhirat nanti, bila ia bersabar dan ridha, tentunya sesuatu yang lebih agung berlipat-lipat dibandingkan dengan musibah itu sendiri. Bahkan bila Allaah menghendaki, Allaah bisa menciptakan yang lebih agung dari itu lagi.

Kiat lain, memadamkan api musibah dengan menyikapinya seperti sikap orang-orang shalih dalam menghadapi musibah. Hendaknya ia menyadari bahwa di setiap lembah ada Bani Saad (Perumpamaan yang artinya, setiap kehidupan pasti mengalami musibah). Hendaknya ia menengok ke sebelah kanan, pasti ia akan melihat musibah yang sama. Lalu menengok ke sebelah kiri, pasti akan melihat juga kesulitan yang sama. Kalau ia selidiki seluruh dunia ini, pasti ia akan melihat orang-orang yang tertimpa musibah, mungkin dengan kehilangan orang yang dicintai, atau terkena marabahaya. Karena kegembiraan dunia hanyalah mimpi di kala tidur, atau seperti bayangan yang sirna. Jika kesenangan itu membuat kita tertawa sedikit, akhirnya akan membuat kita menangis berkepanjangan. Kalau menggembirakan satu hari, akan menimbulkan kesedihan satu abad. Kalau memberi kenikmatan sejenak, akan melenyapkan kesenangan yang lama. Setiapkali mengisi suatu rumah dengan kebaikan, pasti ia akan mengisi juga rumah itu dengan cobaan. Setiap kali mengisi suatu hari dengan keceriaan, pasti suatu hari juga akan memberikan keburukan.

Ibnu Mas’ud menyatakan,”Setiap kegembiraan itu pasti menyimpan kesusahan. Setiap rumah yang dipenuhi dengan kegembiraan, pasti juga akan dipenuhi dengan kesedihan.”

Sementara Ibnu Sirin menyatakan,”Setiap kali ada tawa, pasti akan diringi dengan tangisan juga.”

Hindun binti An-Nu’man menyatakan, “Aku pernah memandang diri kami sendiri saat kami menjadi manusia yang paling mulia dan memiliki kekuasaan yang paling kuat, namun sebelum matahari tenggelam, ternyata kami menyaksikan diri kami sendiri telah berubah menjadi orang yang paling miskin. Semua itu adalah hak Allaah, karena setiap kali Allaah mengisi suatu rumah dengan kebaikan, pasti Allaah akan mengisinya juga dengan cobaan.”

Ada seseorang yang meminta kepada Hindun untuk menceritakan keadaannya itu. Ia menuturkan,”Saat itu, setiap orang di tanah Arab pasti mengharap kebaikan kami. Namun di sore harinya, setiap orang di tanah Arab ini pasti kasihan memandang kami.”

Saudara perempuannya yang bernama Hurqah binti An-Nu’man menangis pada suatu hari saat ia masih menjadi orang terhormat. Ada orang bertanya,”Apa yang menyebabkan engkau menangis? Mungkin ada orang yang menyakitimu?” Ia menjawab,”Tidak. Namun aku melihat adanya kemewahan dalam rumahku. Karena setiap kali suatu rumah dipenuhi dengan kegembiraan, pasti akan dipenuhi dengan kesedihan.”

Ishaq bin Thalhah menuturkan,”Pada suatu hari aku menemui Hurqah, lalu bertanya kepadanya,”bagaimana engkau memandang kisah hidup para raja?” Ia menjawab,”Keadaan kami hari ini tidak lebih baik daripada keadaan kami hari kemarin. Kami menjumpai dalam kitab-kitab, bahwa setiap keluarga yang menikmati kebaikan, pasti akan disusul setelah itu dengan kesusahan. Setiap kali zaman menampakkan pada suatu kaum hal yang disukai oleh mereka, maka zaman itu juga masih menyembunyikan suatu hari yang mereka benci.” Ia melanjutkan seraya berkata dalam bait syair-syairnya:

“Saat kami sedang memimpin banyak massa dan kami adalah penguasa,

ternyata kami hanyalah stir yang mengikuti arus saja.

Hus, celakalah dunia yang kenikmatannya tidak kekal selamanya,

bagaikan roda berputar membawa kita dan mengarah entah ke mana.”

Kiat lain untuk menyembuhkan penyakit ini adalah dengan menyadari bahwa sekadar rasa duka tidak akan mampu menolak, bahkan semakin menjadi-jadi. Bahkan sebenarnya kedukaan itu hanyalah proses bertambahnya penyakit.

Kiat lain untuk menyembuhkan penyakit ini adalah dengan menyadari bahwa kehilangan pahala sabar dan berserah diri adalah musibah terbesar dalam arti sesungguhnya. Pahala itu sendiri adalah shalat, rahmat, dan hidayah yang Allaah janjikan bagi orang yang bersabar dan mengucapkan istirja’.

Kiat lain adalah dengan menyadari bahwa rasa duka itu akan membuat musuh senang dan mengganggu temannya sesame muslim di samping membuat murka Allah, memancing orang kehilangan daya control, menggugurkan pahala dan melemahkan jiwa. Kalau seorang muslim bersabar dan memohon pahala, ia akan bisa menjauhkan dirinya dari setan, membuat setan putus asa, membuat ridha Rabbnya, menyenangkan temannya sendiri, menyusahkan musuhnya, menolong saudara-saudaranya dan menghibur mereka sebelum mereka menghiburnya. Itulah sikap teguh dan kesempurnaan teragung. Bukan malah menampar-nampar pipi, menyobek-nyobek pakaian, menyumpah-nyumpah dan memaki takdir.

Kiat lainnya adalah dengan menyadari bahwa kesabaran dan harapan akan pahala menimbulkan kelezatan dan kesenangan yang menyusul kemudian, jauh lebih banyak daripada yang bisa diperoleh dengan tidak datangnya musibah menghilangkan apa yang dia miliki. Cukup bagi dirinya untuk mendapatkan Baitul Hamdi (sebuah tempat di surga sebagai balasan bagi orang yang sabar) yang dibangun di Surga-Nya atas pujiannya kepada Allaah dan Istirja’ yang diucapkannya saat tertimpa musibah. Coba lihat, musibah mana yang lebih besar, musibah dunia yang sementara atau musibah hilangnya Baitul Hamdi di dalam surge yang abadi?

Dalam Sunan At-Tirmidzi disebutkan secara marfu’:

“Ada segolongan manusia di Hari Kiamat nanti yang berharap andaikan kiranya di dunia dahulu kulit mereka dikuliti saja dengan pisau pengulit di dunia ini, karena mereka melihat betapa besarnya pahala yang diterima oleh mereka yang mendapatkan musibah di dunia.”

Ada kalangan ulama As-Salaf yang menyatakan, “Kalau tidak ada musibah di dunia ini, tentu kita akan datang di Hari Kiamat nanti dalam keadaan bangkrut.”

Di antara kiat penyembuhan terhadap penyakit ini adalah dengan menentramkan hati melalui harapan memperoleh pengganti dari Allah. Karena segala sesuatu pasti ada gantinya, kecuali Allah, tidak ada yang bisa menggantikan Allaah. sebagaimana disebutkan dalam syair:

“Segala sesuatu ada penggantinya meskipun hilang dari tangan kita, namun tidak ada pengganti untuk Allah bila kita menyia-nyiakan hak-Nya.”

Kiat lain, dengan menyadari bahwa jatah yang kita terima dari datangnya musibah itu adalah sikap kita terhadapnya. Bila kita meridhainya, kita akan mendapatkan pahala ridha. Kalau kita mengutuknya, kita akan mendapatkan dosa mengutuknya. Kita hanya mendapatkan sesuatu dari sikap kita saja, tinggal pilih yang terbaik dari sikap kita itu atau yang terburuk. Kalau musibah itu menyebabkan seseorang kecewa bahkan menjerumuskannya pada kekafiran, maka ia akan tertulis dalam catatan orang-orang yang binasa. Kalau menyebabkan rasa sedih dan menyebabkan seseorang lalai menjalankan kewajiban, atau menyebabkannya terjerumus dalam perbuatan haram, ia akan tercatat dalam golongan orang-orang yang lalai. Kalau musibah itu menyebabkan seseorang kehilangan kesabaran dan selalu mengeluh, maka ia akan tercatat sebagai golongan orang-orang yang rugi. Kalau menyebabkan seseorang menentang Allah atau mencela Hikmah-Nya, berarti ia telah mengetuk pintu kezindiqan atau memasukinya. Namun kalau musibah itu menimbulkan kesabaran dan ketabahan, niscaya ia akan tercatat (dalam golongan orang-orang yang sabar. Dan apabila menyebabkan dirinya ridha, maka ia akan tercatat) dalam golongan orang-orang yang ridha. Kalau menimbulkan pujian dan rasa syukur, maka ia akan tercatat dalam kalangan orang-orang yang bersyukur. Ia akan berdiri di bawah panji Al-Hamdu bersama kalangan orang-orang yang banyak memuji. Kalau menimbulkan cinta kasih dan rasa rindu untuk berjumpa dengan Allah, ia akan tercatat dalam golongan orang-orang yang cinta kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya.

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan At-Tirmidzi diriwayatkan dari hadits Mahmud bin Labid secara marfu’:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha (dengan cobaan itu), maka baginya keridhaan Allah. Dan, barangsiapa tidak ridha, maka baginya kemurkaan (Allah).”

Imam Ahmad menambahkan:

وَمَنْ جَزِعَ , فَلَهُ الْجَزَعُ

“Dan barangsiapa yang merasa gundah, maka baginya kegundahan.”

Kiat lainnya adalah dengan menyadari bahwa kalaupun seseorang berduka lara hingga sampai pada puncak kedukaan, akhirnya ia terpaksa bersabar juga. Namun kesabaran semacam itu sama sekali tidak terpuji dan tidak mendapat pahala.

Sebagian ahli hikmah menyatakan: Orang yang berakal dapat berbuat pada hari pertama terjadinya musibah seperti yang diperbuat oleh orang bodoh beberapa hari kemudian. Orang yang tidak bersabar dengan kesabaran orang-orang mulia, maka ia akan bergembira seperti kegembiraan hewan ternak.” Dalam Ash-Shahih diriwayatkan secara marfu’:

الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“Kesabaran yang sesungguhnya adalah pada saat benturan musibah pertama kali.”

Al-Asy’ats bin Qais menyatakan,”Kalau engkau bersabar dengan iman dan berharap pahala, itu akan baik bagi kita. Kalau tidak, kita hanya akan bergembira seperti layaknya hewan ternak.”

Di antara kiat penyembuhan lainnya adalah dengan menyadari bahwa obat yang paling manjur buat seseorang adalah melakukan segala yang sesuai dengan yang disukai oleh Allah dan diridhai-Nya. Ciri khas dan rahasia cinta kasih adalah melakukan hal yang sesuai dengan kehendak yang dicintai. Orang yang mengakui mencintai orang lain namun ia membenci hal yang disukai oleh orang yang dicintainya, dan ia justru menyukai hal yang dibenci oleh orang yang dicintainya, maka ia telah membuktikan sendiri bahwa cintanya itu palsu, bahkan sebenarnya ia membenci orang tersebut.”

Abu Darda menyatakan,”Apabila Allah memutuskan suatu perkara, Allah senang bila keputusannya itu diterima dengan ridha.”

Imran bin Hushain menyatakan dalam Al-‘Illah,”Yang paling kucintai adalah yang paling dicintai oleh Allah.” Demikian juga dinyatakan oleh Abu Al-Aliyyah.

Semua obat dan terapi ini hanya berguna bagi orang-orang yang mencintai Allah, tidak bisa setiap orang menggunakannya sebagai terapi dan obat.

Kiat terapi lain adalah dengan menimbang antara dua kelezatan dan dua kenikmatan, mana yang lebih besar di antara keduanya dan mana yang lebih kekal: kelezatan sesuatu yang hilang karena musibah yang dialaminya, atau kelezatan pahala Allah baginya bila bersabar. bila salah satu dari keduanya sudah diyakini lebih kuat, hendaknya ia memuji Allah atas taufiq-Nya itu. Kalau ia memilih yang lebih kecil dari segala sisi, maka sadarilah bahwa musibahnya terhadap akan, hati, dan agamanya, lebih besar daripada musibah yang dialaminya di dunia.

Kiat lain terhadap musibah adalah dengan menyadari bahwa yang memberi musibah itu kepadanya adalah Allah yang Mahabijaksana, rabb dari segala makhluk yang bijak, Ar-Rahman, Rabb dari segala makhluk yang penuh rahmat. Dan juga menyadari bahwa Allah mengirimkan musibah itu kepadanya bukan untuk membinasakannya, bukan untuk menyiksanya dan juga bukan untuk menyakitinya. Tetapi Allah memberikan cobaan itu untuk menguji kesabaran, keridhaan dan keimanannya. Agar Allah mendengar doa dan penyerahan dirinya kepada-Nya, agar ia bersimpuh di depan pintu-Nya; dengan mengharapkan rahmat-Nya, memasrahkan kehancuran hatinya di hadapan-Nya, dan menyampaikan keluh kesah kepada-Nya.

Syaikh Abdul Qadir berpesan, “Hai anakku! Sesungguhnya musibah itu tidak datang untuk membinasakanmu, namun muncul untuk menguji kesabaran dan imanmu. Hai anakku! Takdir itu ibarat binatang buas, dan binatang buas itu tidak mau memakan bangkai.”

Artinya, bahwa musibah itu ibarat peniup api pandai besi di tangan seorang hamba untuk mencairkan amalannya, yang bisa jadi akan berubah menjadi emas kuning kemerahan atau berubah menjadi benda busuk tak berguna. Seperti diucapkan dalam syair:

“Kami telah mencairkan benda yang kami kira logam mulia, ternyata peniup api itu membuktikan bahwa benda itu hanya besi busuk belaka.”

Kalau peniup api itu tidak berguna baginya di dunia ini, masih ada lagi peniup api terbesar yang menantinya di depan mata. Kalau seorang hamba mengetahui bahwa masuknya dia dalam perapian atau tungku api dunia dan tempat pencairan amal di dunia itu lebih baik, dan bahwa ia pasti akan mendapatkan satu dari dua peniup api, di dunia atau di akhirat, maka hendaknya ia menyadari kadar kenikmatan Allah dengan tungku dunia itu baginya.

Di antara terapi lain adalah dengan menyadari bahwa kalau bukan musibah dan cobaan di dunia ini, tentu seorang hamba akan terkena penyakit ujub dan takabbur, bahkan bisa menimbulkan Fir’aunisme dan kebekuan dalam hatinya. Kesemuanya itu menjadi penyebab kebinasannya cepat atau lambat. Di antara rahmat dari Allah Ar-Rahman terhadap hamba-Nya adalah dengan terus memantaunya melalui berbagai bentuk musibah sebagai ‘obat hati’-nya sehingga bisa mencegah mereka dari berbagai penyakit, memelihara kesehatan peribadatan mereka kepada Allah serta mengenyahkan berbagai unsur busuk, jelek dan mematikan dari hati mereka. Mahasuci Allah yang selalu memberikan rahmat melalui cobaan-Nya, memberi cobaan melalui kenikmatan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam syair:

“Terkadang melalui cobaan Allah memberikan kenikmatannya, betapapun  besarnya cobaan itu.

Namun terkadang melalui kenikmatan Allah justru memberikan ujiannya terhadap kaum tertentu.”

Kalau Allah tidak mengobati para hamba-Nya melalui cobaan dan bala, niscaya mereka akan melampaui batas, berbuat semena-mena dan tidak mengenal aturan. Bila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, Allah akan mencurahkan obat kepada mereka berupa ujian dan cobaan sesuai dengan kondisinya, untuk mengenyahkan berbagai penyakit mematikan yang mereka idap. Bila seorang hamba sudah ditempa, dicuci dan dibersihkan dengan berbagai cobaan, berarti ia sudah layak mendapatkan kedudukan dunia yang paling terhormat, yakni sebagai seorang hamba sejati, bahkan juga mendapatkan pahala akhirat yang terbesar, yakni melihat wajah Allah dan dekat dengan-Nya.

Kiat lain untuk mengobati penyakit musibah adalah dengan menyadari bahwa kepahitan dunia itu sendiri adalah kemanisan untuk akhirat. Demikanlah Allah membolak-balikkan keduanya. Kemanisan dunia justru akan menjadi kepahitan akhirat. Beralih dari kepahitan yang terbatas menuju kemanisan yang abadi itu lebih baik daripada kebalikannya.

Kalau masih juga belum jelas, kita bisa mencermati ucapan Nabi Muhammad yang jujur lagi dapat dipercaya:

«حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ»

“Surga itu ditopang dengan hal-hal yang dibenci oleh nafsu, sementara Neraka itu ditopang dengan hal-hal yang disukai oleh syahwat.”

Untuk memahami konteks ini akal manusia memang bertingkat-tingkat, dan demi memahaminya terkuaklah hakikat seorang manusia sejati. Kebanyakan orang lebih mendahulukan kenikmatan sementara daripada kebahagiaan abadi yang tidak pernah terputus, sehingga mereka tidak mampu menahan kepahitan sejenak demi kenikmatan selamanya, menghinakan diri sebentar demi kemuliaan abadi, atau menahan cobaan sesaat demi keselamatan tak terbatas. Karena yang tampak oleh mata itulah yang ada menurut mereka, sementara yang akan datang hanyalah fatamorgana. Karena keimanan mereka sudah lemah dan syahwat sudah demikian menguasai diri mereka. Dari situlah lahir kecenderungan mendahulukan kehidupan dunia dan menolak kehidupan akhirat.

Itulah halnya pandangan terhadap realitas hanya dari berbagai manifestasi yang terlihat pada banyak perkara dari dasar hingga prinsip-prinsipnya saja. Adapun pandangan tajam yang bisa menembus segala realitas terbatas, pasti akan bisa mencapai berbagai akibat dan tujuan dari segala realitas yang ada, sehingga kesimpulannya akan berbeda.

Cobalah kita mengajak diri kita sendiri untuk mencari apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk orang-orang yang taat berupa kenikmatan yang kekal serta kebahagiaan yang sejati di samping juga kejayaan yang terbesar, lalu mencari apa yang Allah persiapkan pula untuk orang-orang yang lalai dan kurang amalan berupa kehinaan dan siksa serta kekecewaan yang berkepanjangan. Setelah itu pilihlah antara dua hal tersebut yang paling sesuai dengan diri kita. “Masing-masing orang akan mengejar apa yang sesuai dengan karakter dirinya atau apa yang lebih layak buat dirinya. Maka jangan anggap remeh bentuk terapi seperti ini, karena baik tenaga medis maupun pasien sendiri amatlah perlu menjabarkan persoalan ini. Semoga Allah memberikan taufiq-Nya. (Sumber : Dari Kitab ath-Thibbun Nabawiy – Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah).
Lokasi: Ujung Berung, Bandung City, West Java, Indonesia

0 komentar: